[vc_row height=”small” parallax_content=”parallax_content_value”][vc_column 0=””][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner css=”.vc_custom_1494408800189{margin-bottom: 15px !important;padding-top: 20px !important;}”][ultimate_heading main_heading=”SEJARAH PEMILU” spacer=”line_only” spacer_position=”middle” line_height=”1″ main_heading_font_family=”font_family:|font_call:” main_heading_font_size=”desktop:35px;” main_heading_line_height=”desktop:40px;” main_heading_margin=”margin-top:30px;margin-bottom:10px;” sub_heading_font_size=”desktop:22px;” sub_heading_line_height=”desktop:30px;” sub_heading_margin=”margin-top:10px;margin-bottom:20px;” line_width=”250″ spacer_margin=”margin-top:10px;margin-bottom:10px;”]Gambaran Singkat Pemilu di Indonesia dari masa ke masa[/ultimate_heading][vc_column_text 0=””]

Pemilihan umum di Indonesia  pada awalnya adalah untuk memilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Kemudian terjadi perubahan setelah amandemen ke-4 UUD 1945 tahun 2002, pemilihan presiden akan dilakukan secara langsung oleh rakyat, sebelumnya pemilihan presiden dilakukan oleh MPR. Pemilu 2004 adalah pemilu pertama yang berhasil diselenggarakan secara langsung dipilih oleh rakyat indonesia. Kemudian pada tahun 2007, berdasarkan undang-undang No 22 tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah juga dimasukkan kedalam bagian Pemilu. Pemilu diadakan setiap 5 tahun sekali.

Berikut kilas balik Pemilu di Indonesia dari masa ke masa.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][vc_tta_accordion title_tag=”h4″][vc_tta_section tab_id=”1494232156239-c6f35177-26c6″ title=”1955″][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner width=”1/2″][vc_column_text css=”.vc_custom_1493106724252{padding-top: 15px !important;padding-right: 15px !important;padding-bottom: 15px !important;padding-left: 15px !important;}”]

Sejarah dari pemilihan umum di Indonesia diawali pada tahun 1955, yang bertujuan untuk memilih anggota DPR yang dipersiapkan dibawah pemerintahan perdana menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroadmijojo mengundurkan diri dan dialihkan ke Burhanudin Harahap. Ada dua tahap dalam pemilu 1955 yaitu tahap pertama untuk memilih anggota DPR. Tahapan ini diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955 untuk memilih 257 anggota DPR dan 514 anggota konstituante (harusnya 520 anggota, namun Irian Barat memiliki jatah 6 kursi, tidak melakukan pemilihan) dengan 29 jumlah partai politik dan individu yang ikut serta.
Tahap kedua adalah pemilihan anggota konstituante yang diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.

Lima besar dalam Pemilu ini sperti tergambar pada chart di sebelah kanan, Partai-partai lainnya, mendapat kursi di bawah 10. Seperti PSII (8), Parkindo (8), Partai Katolik (6), Partai Sosialis Indonesia (5). Dua partai mendapat 4 kursi (IPKI dan Perti). Enam partai mendapat 2 kursi (PRN, Partai Buruh, GPPS, PRI, PPPRI, dan Murba). Sisanya, 12 partai, mendapat 1 kursi (Baperki, PIR Wongsonegoro, PIR Hazairin, Gerina, Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia, Partai Persatuan Dayak, PPTI, AKUI, Partai Rakyat Indonesia Merdeka, Persatuan Rakyat Desa (bukan PRD modern), ACOMA dan R. Soedjono Prawirosoedarso).

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][us_iconbox icon=”fas|trophy” title=”5 Besar Pemenang Pemilu 1955″][/us_iconbox][us_progbar title=”Partai Nasional Indonesia” count=”22,3″ style=”2″ color=”custom” size=”40px” bar_color=”#dd0000″][us_progbar title=”Masyumi” count=”20,9″ style=”2″ color=”custom” size=”40px” bar_color=”#000000″][us_progbar title=”Nahdlatul Ulama” count=”18,4″ style=”2″ color=”custom” size=”40px” bar_color=”#45b500″][us_progbar title=”Partai Komunis Indonesia” count=”16,4″ style=”2″ color=”custom” size=”40px” bar_color=”#dd3333″][us_progbar title=”Partai Syarikat Islam Indonesia” count=”2,89″ style=”2″ color=”custom” size=”40px” bar_color=”#2e9633″][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][vc_tta_section tab_id=”1494232156421-3fd395e5-2ca0″ title=”1971″][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner width=”1/2″][vc_column_text css=”.vc_custom_1493107266017{padding: 15px !important;}”]

Pemilu berikutnya yaitu pada tanggal 5 juli 1971. Pemilu pertama yang dilakukan dibawah kekuasaan orde baru yang diikuti oleh 9 partai politik dan 1 organisasi masyarakat. 5 besar partai pemenang pemilu adalah Golkar, NU, Parmusi, PNII dan PSSI. Pada tahun 1975 melalui Undang-undang Nomor 3 tahun 1975 diusulkan untuk penggabungan partai, sehingga partai politik hanya terbagi menjadi dua, yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia, dan satu Golkar.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][us_image image=”965″ align=”center” onclick=”lightbox” animate=”fade” animate_delay=”0.2″ css=”.vc_custom_1493975526794{padding-top: 15px !important;padding-right: 15px !important;padding-bottom: 15px !important;padding-left: 15px !important;}”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][vc_tta_section tab_id=”1494232461373-a2bcd9fc-542a” title=”1977 – 1997″][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner width=”1/2″][vc_column_text css=”.vc_custom_1493108914364{padding: 15px !important;}”]

Pemilu pada periode ini diselenggarakan dibawah pemerintahan Presiden Soeharto, dilakukan setiap 5 tahun sekali, mulai tahun 1977 (2 Mei 1977), 1982 (4 Mei 1982), 1987 (23 April 1987), 1992 (9 Juni 1992), dan 1997 (29 Mei 1997) dengan 3 peserta yaitu Golongan Karya (GolKar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dan Partai Pembangunan Persatuan (PPP).
Satu hal yang nyata perbedaannya dengan Pemilu-pemilu sebelumnya adalah bahwa sejak Pemilu 1977 pesertanya jauh lebih sedikit, dua parpol dan satu Golkar. Ini terjadi setelah sebelumnya pemerintah bersama-sama dengan DPR berusaha menyederhanakan jumlah partai dengan membuat UU No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar. Kedua partai itu adalah Partai Persatuan Pembangunan atau PPP dan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI) dan satu Golongan Karya atau Golkar. Jadi dalam 5 kali Pemilu, yaitu Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 pesertanya hanya tiga tadi.
Hasilnya pun sama, Golkar selalu menjadi pemenang, Golkar bahkan sudah menjadi pemenang sejak Pemilu 1971. Keadaan ini secara langsung dan tidak langsung membuat kekuasaan eksekutif dan legislatif berada di bawah kontrol Golkar. Pendukung utama Golkar adalah birokrasi sipil dan militer.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″][us_image image=”968″ align=”center” onclick=”lightbox” css=”.vc_custom_1493975541185{padding-top: 15px !important;padding-right: 15px !important;padding-bottom: 15px !important;padding-left: 15px !important;}”][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][vc_tta_section tab_id=”1494233374818-d8738ef3-8266″ title=”1999″][vc_column_text css=”.vc_custom_1493979549825{padding-bottom: 20px !important;}”]

Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden digantikan oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Atas desakan publik, Pemilu yang baru atau dipercepat segera dilaksanakan, sehingga hasil-hasil Pemilu 1997 segera diganti. Kemudian ternyata bahwa Pemilu dilaksanakan pada 7 Juni 1999, atau 13 bulan masa kekuasaan Habibie. Pada saat itu untuk sebagian alasan diadakannya Pemilu adalah untuk memperoleh pengakuan atau kepercayaan dari publik, termasuk dunia internasional, karena pemerintahan dan lembaga-lembaga lain yang merupakan produk Pemilu 1997 sudah dianggap tidak dipercaya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Sidang Umum MPR untuk memilih presiden dan wakil presiden yang baru. Pemilu ini juga dilakukan untuk memilih anggota DPR, DPRD Tingkat I, dan DPRD Tingkat II.

Ini berarti bahwa dengan pemilu dipercepat, yang terjadi bukan hanya bakal digantinya keanggotaan DPR dan MPR sebelum  selesai masa kerjanya, tetapi Presiden Habibie sendiri memangkas masa jabatannya yang seharusnya berlangsung sampai tahun 2003, suatu kebijakan dari seorang presiden yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelum menyelenggarakan Pemilu yang dipercepat itu, pemerintah mengajukan RUU tentang Partai Politik, RUU tentang Pemilu dan RUU tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Ketiga draft UU ini disiapkan oleh sebuah tim Depdagri, yang disebut Tim 7, yang diketuai oleh Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid (Rektor IIP Depdagri, Jakarta).
Setelah RUU disetujui DPR dan disahkan menjadi UU, presiden membentuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang anggota-anggotanya adalah wakil dari partai politik dan wakil dari pemerintah. Satu hal yang secara sangat menonjol membedakan Pemilu 1999 dengan Pemilu-pemilu sebelumnya sejak 1971 adalah Pemilu 1999 ini diikuti oleh banyak sekali peserta. Ini dimungkinkan karena adanya kebebasan untuk mendirikan partai politik. Peserta Pemilu kali ini adalah 48 partai. Ini sudah jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah partai yang ada dan terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM, yakni 141 partai.
Dalam sejarah Indonesia tercatat, bahwa setelah pemerintahan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap, pemerintahan Reformasi inilah yang mampu menyelenggarakan pemilu lebih cepat setelah proses alih kekuasaan. Burhanuddin Harahap berhasil menyelenggarakan pemilu hanya sebulan setelah menjadi Perdana Menteri menggantikan Ali Sastroamidjojo, meski persiapan-persiapannya sudah dijalankan juga oleh pemerintahan sebelum-nya. Habibie menyelenggarakan pemilu setelah 13 bulan sejak ia naik ke kekuasaan, meski persoalan yang dihadapi Indonesia bukan hanya krisis politik, tetapi yang lebih parah adalah krisis ekonomi, sosial dan penegakan hukum serta tekanan internasional.
Hasil Pemilu 1999
Meskipun masa persiapannya tergolong singkat, pelaksanaan pemungutan suara pada Pemilu 1999 ini bisa dilakukan sesuai jadwal, yakni tanggal 7 Juni 1999. Tidak seperti yang diprediksikan dan dikhawatirkan banyak pihak sebelumnya, ternyata Pemilu 1999 bisa terlaksana dengan damai, tanpa ada kekacauan yang berarti. Hanya di beberapa Daerah Tingkat II di Sumatera Utara yang pelaksanaan pemungutan suaranya terpaksa diundur suara satu pekan. Itu pun karena adanya keterlambatan atas datangnya perlengkapan pemungutan suara.
Tetapi tidak seperti pada pemungutan suara yang berjalan lancar, tahap penghitungan suara dan pembagian kursi pada Pemilu kali ini sempat menghadapi hambatan. Pada tahap penghitungan suara, 27 partai politik menolak menandatangani berita acara perhitungan suara dengan dalih Pemilu belum jurdil (jujur dan adil). Sikap penolakan tersebut ditunjukkan dalam sebuah rapat pleno KPU. Ke-27 partai tersebut adalah sebagai berikut:

Partai yang Tidak Menandatangani Hasil Pemilu 1999 :

NO NAMA PARTAI NO NAMA PARTAI NO NAMA PARTAI
1. Partai Keadilan 10. PAY 19. PADI
2. PNU 11. Partai MKGR 20. PRD
3. PBI 12. PIB 21. PPI
4. PDI 13. Partai SUNI 22. PID
5. Masyumi 14. PNBI 23. Murba
6. PNI Supeni 15. PUDI 24. SPSI
7. Krisna 16. PBN 25. PUMI
8. Partai KAMI 17. PKM 26. PSP
9. PKD 18. PND 27. PARI

Karena ada penolakan, dokumen rapat KPU kemudian diserahkan pimpinan KPU kepada presiden. Oleh presiden hasil rapat dari KPU tersebut kemudian diserahkan kepada Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu). Panwaslu diberi tugas untuk meneliti keberatan-keberatan yang diajukan wakil-wakil partai di KPU yang berkeberatan tadi. Hasilnya, Panwaslu memberikan rekomen-dasi bahwa pemilu sudah sah. Lagipula mayoritas partai tidak menyertakan data tertulis menyangkut keberatan-keberatannya. Presiden kemudian juga menyatakan bahwa hasil pemilu sah. Hasil final pemilu baru diketahui masyararakat tanggal 26 Juli 1999.

Setelah disahkan oleh presiden, PPI (Panitia Pemilihan Indonesia) langsung melakukan pembagian kursi. Pada tahap ini juga muncul masalah. Rapat pembagian kursi di PPI berjalan alot. Hasil pembagian kursi yang ditetapkan Kelompok Kerja PPI, khususnya pembagian kursi sisa, ditolak oleh kelompok partai Islam yang melakukan stembus accoord. Hasil Kelompok Kerja PPI menunjukkan, partai Islam yang melakukan stembus accoord hanya mendapatkan 40 kursi. Sementara Kelompok stembus accoord 8 partai Islam menyatakan bahwa mereka berhak atas 53 dari 120 kursi sisa.

Perbedaan pendapat di PPI tersebut akhirnya diserahkan kepada KPU. Di KPU perbedaan pendapat itu akhirnya diselesaikan melalui voting dengan dua opsi. Opsi pertama, pembagian kursi sisa dihitung dengan memperhatikan suara stembus accoord, sedangkan opsi kedua pembagian tanpa stembus accoord. Hanya 12 suara yang mendukung opsi pertama, sedangkan yang mendukung opsi kedua 43 suara. Lebih dari 8 partai walk out. Ini berarti bahwa pembagian kursi dilakukan tanpa memperhitungkan lagi stembus accoord.

Berbekal keputusan KPU tersebut, PPI akhirnya dapat melakukan pembagian kursi hasil pemilu pada tanggal 1 September 1999. Hasil pembagian kursi itu menunjukkan, lima partai besar memborong 417 kursi DPR atau 90,26 persen dari 462 kursi yang diperebutkan.

Sebagai pemenangnya adalah PDI-P yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen dengan perolehan 153 kursi. Golkar memperoleh 23.741.758 suara atau 22,44 persen sehingga mendapatkan 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dibanding Pemilu 1997. PKB dengan 13.336.982 suara atau 12,61 persen, mendapatkan 51 kursi. PPP dengan 11.329.905 suara atau 10,71 persen, mendapatkan 58 kursi atau kehilangan 31 kursi dibanding Pemilu 1997. PAN meraih 7.528.956 suara atau 7,12 persen, mendapatkan 34 kursi. Di luar lima besar, partai lama yang masih ikut, yakni PDI merosot tajam dan hanya meraih 2 kursi dari pembagian kursi sisa, atau kehilangan 9 kursi dibanding Pemilu 1997. Selengkapnya hasil perhitungan pembagian kursi itu seperti terlihat dalam tabel di bawah.

No No. Par-pol Partai Jumlah Suara Per-sentase Jlh Kursi (-SA) Per-sentase Jlh Kursi (+SA)
1. 11. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 35.689.073 33,74% 153 33,12% 154
2. 33. Partai Golongan Karya 23.741.749 22,44% 120 25,97% 120
3. 9. Partai Persatuan Pembangunan 11.329.905 10,71% 58 12,55% 59
4. 35. Partai Kebangkitan Bangsa 13.336.982 12,61% 51 11,03% 51
5. 15. Partai Amanat Nasional 7.528.956 7,12% 34 7,36% 35
6. 22. Partai Bulan Bintang 2.049.708 1,94% 13 2,81% 13
7. 24. Partai Keadilan 1.436.565 1,36% 7 1,51% 6
8. 41. Partai Keadilan dan Persatuan 1.065.686 1,01% 4 0,87% 6
9. 25. Partai Nahdlatul Ummat 679.179 0,64% 5 1,08% 3
10. 14. Partai Demokrasi Kasih Bangsa 550.846 0,52% 5 1,08% 3
11. 44. Partai Bhinneka Tunggal Ika Indonesia 364.291 0,34% 1 0,22% 3
12. 32. Partai Demokrasi Indonesia 345.720 0,33% 2 0,43% 2
13. 34. Partai Persatuan 655.052 0,62% 1 0,22% 1
14. 39. Partai Daulat Rakyat 427.854 0,40% 2 0,43% 1
15. 10. Partai Syarikat Islam Indonesia 375.920 0,36% 1 0,22% 1
16. 26. Partai Nasional Indonesia – Front Marhaenis 365.176 0,35% 1 0,22% 1
17. 30. Partai Nasional Indonesia – Massa Marhaen 345.629 0,33% 1 0,22% 1
18. 27. Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia 328.654 0,31% 1 0,22% 1
19. 7. Partai Kebangkitan Ummat 300.064 0,28% 1 0,22% 1
20. 21. Partai Politik Islam Indonesia Masyumi 456.718 0,43% 1 0,22% 0
21. 18. Partai Katolik Demokrat 216.675 0,20% 0 0,00% 0
22. 3. Partai Nasional Indonesia 377.137 0,36% 0 0,00% 0
23. 2. Partai Kristen Nasional Indonesia 369.719 0,35% 0 0,00% 0
24. 5. Partai Kebangkitan Muslim Indonesia 289.489 0,27% 0 0,00% 0
25. 6. Partai Ummat Islam 269.309 0,25% 0 0,00% 0
26. 12. Partai Abul Yatama 213.979 0,20% 0 0,00% 0
27. 28. Partai Republik 328.564 0,31% 0 0,00% 0
28. 38. Partai Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong 204.204 0,19% 0 0,00% 0
29. 1. Partai Indonesia Baru 192.712 0,18% 0 0,00% 0
30. 45. Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia 180.167 0,17% 0 0,00% 0
31. 40. Partai Cinta Damai 168.087 0,16% 0 0,00% 0
32. 17. Partai Syarikat Islam Indonesia 1905 152.820 0,14% 0 0,00% 0
33. 8. Partai Masyumi Baru 152.589 0,14% 0 0,00% 0
34. 43. Partai Nasional Bangsa Indonesia 149.136 0,14% 0 0,00% 0
35. 36. Partai Uni Demokrasi Indonesia 140.980 0,13% 0 0,00% 0
36. 37. Partai Buruh Nasional 140.980 0,13% 0 0,00% 0
37. 13. Partai Kebangsaan Merdeka 104.385 0,10% 0 0,00% 0
38. 46. Partai Nasional Demokrat 96.984 0,09% 0 0,00% 0
39. 4. Partai Aliansi Demokrat Indonesia 85.838 0,08% 0 0,00% 0
40. 16. Partai Rakyat Demokratik 78.730 0,07% 0 0,00% 0
41. 48. Partai Pekerja Indonesia 63.934 0,06% 0 0,00% 0
42. 29. Partai Islam Demokrat 62.901 0,06% 0 0,00% 0
43. 31. Partai Musyawarah Rakyat Banyak 62.006 0,06% 0 0,00% 0
44. 23. Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia 61.105 0,06% 0 0,00% 0
45. 47. Partai Ummat Muslimin Indonesia 49.839 0,05% 0 0,00% 0
46. 42. Partai Solidaritas Pekerja 49.807 0,05% 0 0,00% 0
47. 20. Partai Rakyat Indonesia 54.790 0,05% 0 0,00% 0
48. 19. Partai Pilihan Rakyat 40.517 0,04% 0 0,00% 0
J U M L A H . . . 105.786.661 100,00% 462 100,00% 462

Catatan:

  1. Jumlah suara partai yang tidak menghasilkan kursi mencapai 9.700.658. atau 9,17 persen dari suara yang sah.
  2. Apabila pembagian kursi dilakukan dengan sistem kombinasi jumlah partai yang mendapatkan kursi mencapai 37 partai dengan jumlah suara partai yang tidak menghasilkan kursi hanya 706.447 atau 0,67 persen dari suara sah.

Cara pembagian kursi hasil pemilihan kali ini tetap memakai sistem proporsional dengan mengikuti varian Roget. Dalam sistem ini sebuah partai memperoleh kursi seimbang dengan suara yang diperolehnya di daerah pemilihan, termasuk perolehan kursi berdasarkan the largest remainder.

Tetapi cara penetapan calon terpilih berbeda dengan Pemilu sebelumnya, yakni dengan menentukan ranking perolehan suara suatu partai di daerah pemilihan. Apabila sejak Pemilu 1977 calon nomor urut pertama dalam daftar calon partai otomatis terpilih apabila partai itu mendapatkan kursi, maka kini calon terpillih ditetapkan berdasarkan suara terbesar atau terba-nyak dari daerah di mana seseorang dicalonkan. Dengan demikian seseorang calon, sebut saja si A, meski berada di urutan terbawah dari daftar calon, kalau dari daerahnya partai mendapatkan suara terbesar, maka dialah yang terpilih. Untuk cara penetapan calon terpilih berdasarkan perolehan suara di Daerah Tingkat II ini sama dengan cara yang dipergunakan pada Pemilu 1971.

Bagaimanapun penyelenggaraan Pemilu-pemilu tersebut merupakan pengalaman yang berharga. Sekarang, apakah pengalaman itu akan bermanfaat atau tidak semuanya sangat tergantung pada penggunaannya untuk masa-masa yang akan datang. Pemilu yang paling dekat adalah Pemilu 2004. Pengalaman tadi akan bisa dikatakan berharga apabila Pemilu 2004 nanti memang lebih baik daripada Pemilu 1999. Pemilu 1999 untuk banyak hal telah mendapat pujian dari berbagai pihak. Dengan pengalaman tersebut, sudah seharusnyalah kalau Pemilu 2004 mendatang lebih baik lagi

Pemilu tahun 1999 merupakan pemilu pertama sejak zaman orde baru runtuh dan dimulailah era reformasi di Indonesia. Setelah tahun 1999, Indonesia pun kembali melakukan pemilu setiap lima tahun sekali secara langsung. Bahkan pemilu 2004 merupakan pemilu pertama kali di Indonesia dimana setiap warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, dapat memilih langsung presiden dan wakilnya selain pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD Tingkat I, dan DPRD tingkat II. Selain itu, sejak pemilu 2004, juga dilakukan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pada pemilu tahun 2004 dan 2009, ditetapkan parliamentary threshold (PT) sebesar 2.5%. Apabila partai politik yang memperoleh suara dengan persentase kurang dari 2,50% tidak berhak memperoleh kursi di DPR..

[/vc_column_text][/vc_tta_section][/vc_tta_accordion][/vc_column][/vc_row][vc_row bg_type=”bg_color” parallax_content=”parallax_content_value” seperator_enable=”seperator_enable_value” seperator_type=”clouds_seperator” seperator_svg_height=”70″ seperator_shape_background=”#f2f1f0″ css=”.vc_custom_1494412463950{margin-top: 30px !important;padding-top: 30px !important;padding-bottom: 50px !important;}” bg_color_value=”#ebe0d3″][vc_column animate=”fade” animate_delay=”0.2″ css=”.vc_custom_1494408776920{padding-top: 30px !important;}”][ultimate_heading main_heading=”Pemilu 2004″ alignment=”left” spacer=”line_only” spacer_position=”bottom” line_height=”2″ line_color=”#662616″ main_heading_style=”font-weight:bold;” main_heading_font_size=”desktop:24px;” main_heading_line_height=”desktop:32px;” line_width=”133″ spacer_margin=”margin-top:15px;margin-bottom:25px;”][/ultimate_heading][vc_tta_accordion title_tag=”h4″][vc_tta_section tab_id=”1494234560626-76dad2dd-e3ba” title=”Pemilu Legislatif”][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner animate=”fade” animate_delay=”0.2″ width=”1/3″][vc_column_text 0=””]

Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2004 diselenggarakan secara serentak pada tanggal 5 April 2004 untuk memilih 550 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 128 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2004-2009.

Proses penghitungan suara berlangsung selama sebulan dan hasil akhir diumumkan pada 5 Mei. Dari 148.000.369 pemilih terdaftar, 124.420.339 menggunakan hak pilihnya (84,06%). Dari total jumlah suara, 113.462.414 suara (91,19%) dinyatakan sah dan 10.957.925 tidak sah. Hasil akhir pemilu menunjukan bahwa Golkar mendapat suara terbanyak. Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dua partai terbaru dalam pemilu ini, mendapat 7,45% dan 7,34% suara. Pemilihan umum 2004 dinyatakan sebagai pemilu paling rumit dalam sejarah demokrasi Indonesia.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”fade” animate_delay=”0.4″ width=”2/3″][vc_column_text 0=””]

No

Partai Jumlah Suara Persentase Jumlah Kursi

Persentase

Keterangan

1. Partai Golongan Karya 24.480.757 21,58 % 128 23,27 % Lolos
2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 21.026.629 18,53 % 109 19,82 % Lolos
3. Partai Kebangkitan Bangsa 11.989.564 10,57 % 52 9,45 % Lolos
4. Partai Persatuan Pembangunan 9.248.764 8,15 % 58 10,55 % Lolos
5. Partai Demokrat 8.455.225 7,45 % 55* 10,00 % Lolos
6. Partai Keadilan Sejahtera 8.325.020 7,34 % 45 8,18 % Lolos
7. Partai Amanat Nasional 7.303.324 6,44 % 53* 9,64 % Lolos
8. Partai Bulan Bintang 2.970.487 2,62 % 11 2,00 % Lolos
9. Partai Bintang Reformasi 2.764.998 2,44 % 14* 2,55 % Lolos
10. Partai Damai Sejahtera 2.414.254 2,13 % 13* 2,36 % Lolos
11. Partai Karya Peduli Bangsa 2.399.290 2,11 % 2 0,36 % Lolos
12. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia 1.424.240 1,26 % 1 0,18 % Lolos
13. Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan 1.313.654 1,16 % 4* 0,73 % Lolos
14. Partai Nasional Banteng Kemerdekaan 1.230.455 1,08 % 0* 0,00 % Tidak lolos
15. Partai Patriot Pancasila 1.073.139 0,95 % 0 0,00 % Tidak lolos
16. Partai Nasional Indonesia Marhaenisme 923.159 0,81 % 1 0,18 % Lolos
17. Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia 895.610 0,79 % 0 0,00 % Tidak lolos
18. Partai Pelopor 878.932 0,77 % 3* 0,55 % Lolos
19. Partai Penegak Demokrasi Indonesia 855.811 0,75 % 1 0,18 % Lolos
20. Partai Merdeka 842.541 0,74 % 0 0,00 % Tidak lolos
21. Partai Sarikat Indonesia 679.296 0,60 % 0 0,00 % Tidak lolos
22. Partai Perhimpunan Indonesia Baru 672.952 0,59 % 0 0,00 % Tidak lolos
23. Partai Persatuan Daerah 657.916 0,58 % 0 0,00 % Tidak lolos
24. Partai Buruh Sosial Demokrat 636.397 0,56 % 0 0,00 % Tidak lolos
Jumlah 113.462.414 100,00% 550 100,00%
Catatan: Tanda * berarti jumlah kursi diubah setelah Mahkamah Konstitusi menyelesaikan sengketa mengenai hasil pemilu.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][vc_tta_section tab_id=”1494234560795-0883b91e-0e24″ title=”Pemilu Presiden”][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner 0=””][vc_column_text 0=””]

Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004 diselenggarakan untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk periode tahun 2004 hingga 2009. Pemilihan umum ini adalah yang pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia. Pemilihan umum ini diselenggarakan 2 putaran.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner width=”1/2″ css=”.vc_custom_1494238852830{padding-top: 15px !important;}”][vc_column_text 0=””]

PUTARAN I

Pemilu putaran pertama diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004, dan diikuti oleh 5 pasangan calon, dengan hasil sebagai berikut :

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”afl” animate_delay=”0.6″ width=”1/2″ css=”.vc_custom_1494238867752{padding-top: 15px !important;padding-bottom: 15px !important;}”][vc_column_text 0=””]

PUTARAN II

Karena tidak ada satu pasangan yang memperoleh suara lebih dari 50%, maka diselenggarakan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh 2 pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua, yakni SBY-JK dan Mega Hasyim.

Pemilu putaran kedua diselenggarakan pada tanggal 20 September 2004, dengan hasil sebagai berikut :

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”afl” animate_delay=”0.4″ width=”1/2″][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1045|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_SBY-JK.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_SBY-JK|description^null” img_width=”200″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”left”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 4
H. Susilo Bambang Yudhoyono
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
39.838.184 (33,57%)

[/bsf-info-box][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1050|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_Megawati-Hasyim.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_Megawati-Hasyim|description^null” img_width=”200″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”left”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 4
Hj. Megawati Soekarnoputri
H. Hasyim Muzadi
31.569.104 (26,61%)

[/bsf-info-box][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1053|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_Wiranto-Salahuddin.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_Wiranto-Salahuddin|description^null” img_width=”200″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”left”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 1
H. Wiranto, SH.
Ir. H. Salahuddin Wahid
26.286.788 (22,15%)

[/bsf-info-box][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1052|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_Amien-Siswono.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_Amien-Siswono|description^null” img_width=”200″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”left”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 3
Prof. Dr. HM. Amien Rais
Dr. Ir. H. Siswono Yudo Husodo
17.392.931 (14,66%)

[/bsf-info-box][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1054|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_Hamzah_Haz-Agum_Gumelar.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_Hamzah_Haz-Agum_Gumelar|description^null” img_width=”200″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”left”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 5
Dr. H. Hamzah Haz
H. Agum Gumelar, M.Sc.
3.569.861 (3,01%)

[/bsf-info-box][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”afr” animate_delay=”0.6″ width=”1/2″][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1045|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_SBY-JK.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_SBY-JK|description^null” img_width=”300″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”top”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 4
H. Susilo Bambang Yudhoyono
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
69.266.350 (60,62%)

[/bsf-info-box][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1050|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pilpres_2004_Megawati-Hasyim.jpg|caption^null|alt^null|title^Pilpres_2004_Megawati-Hasyim|description^null” img_width=”300″ icon_animation=”fadeInUp” pos=”top”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 2
Hj. Megawati Soekarnoputri
H. Hasyim Muzadi
44.990.704 (39,38%)

[/bsf-info-box][vc_column_text css=”.vc_custom_1494239254873{padding-top: 18px !important;}”]

Berdasarkan hasil pemilihan umum putaran kedua yang diumumkan pada tanggal 4 Oktober 2004, pasangan calon H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih. Pelantikannya diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2004 dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][/vc_tta_accordion][/vc_column][/vc_row][vc_row bg_type=”bg_color” parallax_content=”parallax_content_value” seperator_enable=”seperator_enable_value” seperator_type=”clouds_seperator” seperator_svg_height=”70″ seperator_shape_background=”#ebe0d3″ css=”.vc_custom_1494408651299{padding-top: 30px !important;padding-bottom: 30px !important;}” bg_color_value=”#f2f1f0″][vc_column animate=”fade” animate_delay=”0.4″ css=”.vc_custom_1494408816439{padding-top: 30px !important;}”][ultimate_heading main_heading=”Pemilu 2009″ alignment=”left” spacer=”line_only” spacer_position=”bottom” line_height=”2″ line_color=”#662616″ main_heading_style=”font-weight:bold;” main_heading_font_size=”desktop:24px;” main_heading_line_height=”desktop:32px;” line_width=”133″ spacer_margin=”margin-top:15px;margin-bottom:25px;”][/ultimate_heading][vc_tta_accordion title_tag=”h4″][vc_tta_section tab_id=”1494410376615-a4cc6202-5b3e” title=”Pemilu Legislatif”][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner animate=”afl” animate_delay=”0.4″ width=”1/3″][vc_column_text css=”.vc_custom_1494409203819{padding-top: 15px !important;}”]

Pemilihan umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2009 diselenggarakan untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014. Pemungutan suara diselenggarakan secara serentak di hampir seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 9 April 2009 (sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada 5 April, namun kemudian diundur).

Pada 9 Mei 2009, KPU menetapkan hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2009 setelah 14 hari (26 April 2009 – 9 Mei 2009) melaksanakan rekapitulasi penghitungan suara secara nasional. Hasil yang diumumkan meliputi perolehan suara berikut jumlah kursi masing-masing partai politik di DPR. Penetapan jumlah kursi kemudian direvisi oleh KPU pada 13 Mei 2009 setelah terjadi perbedaan pendapat mengenai metode penghitungannya. Revisi kemudian kembali dilakukan berdasarkan keputusan MK.

[/vc_column_text][us_counter initial=”100juta” final=”171,265juta” color=”heading” size=”4rem” font=”h1″ title=”Pemilih Terdaftar” title_tag=”h4″ align=”left”][us_counter initial=”1000juta” final=”121,588juta” color=”heading” size=”4rem” font=”h1″ title=”Yang ikut Pemilu” title_tag=”h4″ align=”left”][us_counter initial=”1000juta” final=”49,677juta” color=”heading” size=”4rem” font=”h1″ title=”Yang tidak ikut Pemilu” title_tag=”h4″ align=”left”][us_counter initial=”1000juta” final=”104,099juta” color=”heading” size=”4rem” font=”h1″ title=”Suara Sah” title_tag=”h4″ align=”left”][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”afr” animate_delay=”0.8″ width=”2/3″][vc_column_text css=”.vc_custom_1494409802851{padding-top: 15px !important;}”]

No.

Partai Jumlah suara Persentase suara Jumlah kursi

Persentase kursi

Status PT*
1 Partai Hati Nurani Rakyat 3.922.870 3,77% 18 3,21% Lolos
2 Partai Karya Peduli Bangsa 1.461.182 1,40% 0 0,00% Tidak lolos
3 P. Pengusaha dan Pekerja Indonesia 745.625 0,72% 0 0,00% Tidak lolos
4 Partai Peduli Rakyat Nasional 1.260.794 1,21% 0 0,00% Tidak lolos
5 Partai Gerakan Indonesia Raya 4.646.406 4,46% 26 4,64% Lolos
6 Partai Barisan Nasional 761.086 0,73% 0 0,00% Tidak lolos
7 P. Keadilan dan Persatuan Indonesia 934.892 0,90% 0 0,00% Tidak lolos
8 Partai Keadilan Sejahtera 8.206.955 7,88% 57 10,18% Lolos
9 Partai Amanat Nasional 6.254.580 6,01% 43 7,68% Lolos
10 Partai Perjuangan Indonesia Baru 197.371 0,19% 0 0,00% Tidak lolos
11 Partai Kedaulatan 437.121 0,42% 0 0,00% Tidak lolos
12 Partai Persatuan Daerah 550.581 0,53% 0 0,00% Tidak lolos
13 Partai Kebangkitan Bangsa 5.146.122 4,94% 27 4,82% Lolos
14 Partai Pemuda Indonesia 414.043 0,40% 0 0,00% Tidak lolos
15 P. Nasional Indonesia Marhaenisme 316.752 0,30% 0 0,00% Tidak lolos
16 Partai Demokrasi Pembaruan 896.660 0,86% 0 0,00% Tidak lolos
17 Partai Karya Perjuangan 351.440 0,34% 0 0,00% Tidak lolos
18 Partai Matahari Bangsa 414.750 0,40% 0 0,00% Tidak lolos
19 P. Penegak Demokrasi Indonesia 137.727 0,13% 0 0,00% Tidak lolos
20 Partai Demokrasi Kebangsaan 671.244 0,64% 0 0,00% Tidak lolos
21 Partai Republika Nusantara 630.780 0,61% 0 0,00% Tidak lolos
22 Partai Pelopor 342.914 0,33% 0 0,00% Tidak lolos
23 Partai Golongan Karya 15.037.757 14,45% 107 19,11% Lolos
24 P. Persatuan Pembangunan 5.533.214 5,32% 37 6,61% Lolos
25 Partai Damai Sejahtera 1.541.592 1,48% 0 0,00% Tidak lolos
26 P. Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia 468.696 0,45% 0 0,00% Tidak lolos
27 Partai Bulan Bintang 1.864.752 1,79% 0 0,00% Tidak lolos
28 P. Demokrasi Indonesia Perjuangan 14.600.091 14,03% 95 16,96% Lolos
29 Partai Bintang Reformasi 1.264.333 1,21% 0 0,00% Tidak lolos
30 Partai Patriot 547.351 0,53% 0 0,00% Tidak lolos
31 Partai Demokrat 21.703.137 20,85% 150 26,79% Lolos
32 P. Kasih Demokrasi Indonesia 324.553 0,31% 0 0,00% Tidak lolos
33 Partai Indonesia Sejahtera 320.665 0,31% 0 0,00% Tidak lolos
34 P. Kebangkitan Nasional Ulama 1.527.593 1,47% 0 0,00% Tidak lolos
41 Partai Merdeka 111.623 0,11% 0 0,00% Tidak lolos
42 P. Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia 146.779 0,14% 0 0,00% Tidak lolos
43 Partai Sarikat Indonesia 140.551 0,14% 0 0,00% Tidak lolos
44 Partai Buruh 265.203 0,25% 0 0,00% Tidak lolos
Jumlah 104.099.785 100,00% 560 100,00%

*) Karena adanya penerapan parliamentary threshold (PT), partai politik yang memperoleh suara dengan persentase kurang dari 2,50% tidak berhak memperoleh kursi di DPR.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][vc_tta_section tab_id=”1494410376911-add10059-e5d1″ title=”Pemilu Presiden”][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner animate=”fade” width=”1/4″][vc_column_text 0=””]

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2009 diselenggarakan pada 8 Juli 2009 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2009-2014. Rekapitulasi perolehan suara nasional Pilpres 2009 dilaksanakan KPU pada tanggal 22 – 23 Juli 2009 dan Penetapan Hasil pada tanggal 25 Juli 2009. Hasil Pilpres 2009 berdasarkan penetapan tersebut adalah sebagai berikut :

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”aft” animate_delay=”0.4″ width=”1/4″][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1069|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pemilu_2009_Megawati-Prabowo.jpg|caption^null|alt^null|title^Pemilu_2009_Megawati-Prabowo|description^null” img_width=”200″ pos=”top”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 1
Hj. Megawati Soekarnoputri
H. Prabowo Subianto
32.548.105 (26,79%)

[/bsf-info-box][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”aft” animate_delay=”0.6″ width=”1/4″][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1071|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pemilu_2009_-SBY-Boediono.jpg|caption^null|alt^null|title^Pemilu_2009_-SBY-Boediono|description^null” img_width=”200″ pos=”top”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 2
H. Susilo Bambang Yudhoyono
Prof. DR. Boediono
73.874.562 (60,80%)

[/bsf-info-box][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”aft” animate_delay=”0.8″ width=”1/4″][bsf-info-box icon_type=”custom” icon_img=”id^1072|url^https://www.kpu-kupangkab.go.id/wp-content/uploads/2017/04/Pemilu_2009_JK-Wiranto.jpg|caption^null|alt^null|title^Pemilu_2009_JK-Wiranto|description^null” img_width=”200″ pos=”top”]

Pasangan Calon Presiden & Wakil Presiden No. Urut 3
Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla
H. Wiranto
15.081.814 (12,41%)

[/bsf-info-box][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][/vc_tta_accordion][/vc_column][/vc_row][vc_row bg_type=”bg_color” parallax_content=”parallax_content_value” seperator_enable=”seperator_enable_value” seperator_type=”clouds_seperator” seperator_svg_height=”70″ seperator_shape_background=”#f2f1f0″ css=”.vc_custom_1494412463950{margin-top: 30px !important;padding-top: 30px !important;padding-bottom: 50px !important;}” bg_color_value=”#ebe0d3″][vc_column animate=”fade” animate_delay=”0.2″ css=”.vc_custom_1494408776920{padding-top: 30px !important;}”][ultimate_heading main_heading=”Pemilu 2014″ alignment=”left” spacer=”line_only” spacer_position=”bottom” line_height=”2″ line_color=”#662616″ main_heading_style=”font-weight:bold;” main_heading_font_size=”desktop:24px;” main_heading_line_height=”desktop:32px;” line_width=”133″ spacer_margin=”margin-top:15px;margin-bottom:25px;”][/ultimate_heading][vc_tta_accordion title_tag=”h4″][vc_tta_section tab_id=”1495078884148-cc7aa47e-8fbe” title=”Pemilu Legislatif”][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner animate=”fade” animate_delay=”0.2″ width=”1/3″][vc_column_text 0=””]

Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2014 (Pileg 2014) untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2014-2019.
Pemilihan ini dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 serentak di seluruh wilayah Indonesia. Namun untuk warga negara Indonesia di luar negeri, hari pemilihan ditetapkan oleh panitia pemilihan setempat di masing-masing negara domisili pemilih sebelum tanggal 9 April 2014. Pemilihan di luar negeri hanya terbatas untuk anggota DPR di daerah pemilihan DKI Jakarta II, dan tidak ada pemilihan anggota perwakilan daerah.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”fade” animate_delay=”0.4″ width=”2/3″][vc_column_text 0=””]

HASIL PEMILU 2014 SECARA NASIONAL

No. Partai Jlh Suara % Suara Jlh Kursi % Kursi Status PT
1 Partai NasDem 8.402.812 6,72 35 6,3 Lolos
2 Partai Kebangkitan Bangsa 11.198.957 9,04 47 8,4 Lolos
3 Partai Keadilan Sejahtera 8.480.104 6,79 40 7,1 Lolos
4 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 23.681.471 18,95 109 19,5 Lolos
5 Partai Golongan Karya 18.432.312 14,75 91 16,3 Lolos
6 Partai Gerakan Indonesia Raya 14.760.371 11,81 73 13,0 Lolos
7 Partai Demokrat 12.728.913 10,19 61 10,9 Lolos
8 Partai Amanat Nasional 9.481.621 7,59 49 8,8 Lolos
9 Partai Persatuan Pembangunan 8.157.488 6,53 39 7,0 Lolos
10 Partai Hati Nurani Rakyat 6.579.498 5,26 16 2,9 Lolos
14 Partai Bulan Bintang 1.825.750 1,46 0 0 Tidak Lolos
15 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia 1.143.094 0,91 0 0 Tidak Lolos
JUMLAH . . . 124.972.491 100% 560 100%  

*) Karena adanya penerapan parliamentary threshold (PT), partai politik yang memperoleh suara dengan persentase kurang dari 3,50% tidak berhak memperoleh kursi di DPR.

Statistik

  • Jumlah suara sah: 124.972.491
  • Jumlah suara tidak sah: 14.601.436
  • Jumlah pemilih: 139.573.927
  • Jumlah yang tidak memilih: 46.152.097
  • Jumlah pemilih terdaftar: 185.826.024

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][vc_tta_section tab_id=”1495078885539-8a2034e6-5dae” title=”Pemilu Presiden”][vc_row_inner 0=””][vc_column_inner 0=””][vc_column_text 0=””]

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Tahun 2014 (Pilpres 2014) adalah pemilihan presiden secara langsung yang ketiga di Indonesia. Pilpres 2014 dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk masa bakti 2014-2019. Menurut UU Pemilu 2008, hanya partai yang menguasai lebih dari 20% kursi di Dewan Perwakilan Rakyat atau memenangi 25% suara populer dapat mengajukan kandidatnya. Undang-undang ini sempat digugat di Mahkamah Konstitusi, namun pada bulan Januari 2014, Mahkamah memutuskan undang-undang tersebut tetap berlaku.

Pemilihan umum ini diikuti oleh dua pasang calon Presiden dan Wakil Presiden yaitu Prabowo Subianto, mantan Panglima Kostrad yang berpasangan dengan Hatta Rajasa, mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian 2009-2014, serta Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2004-2009. Pada tanggal 31 Mei 2014, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan 2 pasang calon Presiden dan Wakil Presiden, serta melakukan pengundian nomor urut pada 1 Juni 2014.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”afl” animate_delay=”0.4″ width=”1/2″ css=”.vc_custom_1495084047142{padding-top: 15px !important;}”][ultimate_info_table design_style=”design02″ color_scheme=”custom” color_bg_main=”#f25637″ color_txt_main=”#ffffff” color_bg_highlight=”#fdf3f1″ color_txt_highlight=”#ffffff” package_heading=”Prabowo Subianto” package_sub_heading=”Hatta Rajasa” icon_type=”custom” icon_img=”1080″ img_width=”250″ heading_font_size=”desktop:18px;” heading_line_height=”desktop:22px;” subheading_font_size=”desktop:18px;” subheading_line_height=”desktop:22px;” features_min_ht=”700″]

 Partai Pendukung

1 Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
2 Partai Golongan Karya (Golkar)
3 Partai Amanat Nasional (PAN)
4 Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
5 Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
6 Partai Bulan Bintang (PBB)
7 Partai Demokrat

Perolehan Suara : 62.576.444 (46,85%)

[/ultimate_info_table][/vc_column_inner][vc_column_inner animate=”afr” animate_delay=”0.8″ width=”1/2″ css=”.vc_custom_1495084059811{padding-top: 15px !important;padding-bottom: 15px !important;}”][ultimate_info_table design_style=”design02″ color_scheme=”custom” color_bg_main=”#d10006″ color_txt_main=”#ffffff” color_bg_highlight=”#fda0a3″ color_txt_highlight=”#ffffff” package_heading=”Joko Widodo” package_sub_heading=”Jusuf Kalla” icon_type=”custom” icon_img=”1082″ img_width=”250″ heading_font_size=”desktop:18px;” heading_line_height=”desktop:22px;” subheading_font_size=”desktop:18px;” subheading_line_height=”desktop:22px;” features_min_ht=”700″]

Partai Pendukung

1 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
2 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
3 Partai Nasional Demokrat
4 Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
5 Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)

Perolehan Suara : 70.997.833 (53,15%)

[/ultimate_info_table][/vc_column_inner][vc_column_inner 0=””][vc_column_text 0=””]

Pemilihan umum ini akhirnya dimenangi oleh pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan memperoleh suara sebesar 53,15%, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang memperoleh suara sebesar 46,85% sesuai dengan keputusan KPU RI pada 22 Juli 2014. Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono.

[/vc_column_text][/vc_column_inner][/vc_row_inner][/vc_tta_section][/vc_tta_accordion][/vc_column][/vc_row]